Sepotong Cerita Tentang Kita
Olivia memandang keluar jendela kamarnya, menatap awan kelabu yang menyelimuti keindahan langit jingga senja ini. Dedaunan masih basah sehabis bermandikan air hujan. Sudah dua bulan lamanya sejak Olivia menginjakkan kaki keluar rumah. Ibunya sudah menyerah membujuk Olive−begitu ia biasa disapa untuk pergi kuliah melaksanakan tugasnya sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas di kota London. Ayahnya, seorang sersan yang ditugaskan di Korea untuk militer, bahkan mungkin tidak mengetahui tentang masalah Olivia. Dia tidak punya satu hal pun untuk disalahkan− tidak orang tuanya, bukan teman-temannya, dan tentu saja tidak dengan Ezra−kecuali dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
Olivia bertemu Ezra pada saat masa orientasi mahasiswa baru dua tahun silam.
Saat pertama kali matanya bertemu dengan mata Ezra, ia tahu bahwa Ezra
adalah laki-laki impiannya. Selama dua tahun ini, Olivia dan Ezra
dikenal sebagai sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Mereka melakukan
segala sesuatu bersama-sama, dari menghangatkan badan sambil bermain
monopoli di dekat perapian pada hari bersalju sampai menonton matahari
terbenam di atap apartemen Olivia. Mereka selalu menikmati waktu-waktu
yang mereka habiskan berdua.
Sebagai sepasang sahabat,
tidak mungkin jika salah satu dari mereka tidak menyimpan perasaan
lebih. Pada satu hari di bulan Maret−yang bertepatan dengan hari ulang
tahun Olivia, Ezra mengajak Olivia pergi ke sebuah restoran mewah untuk
makan malam. Olivia tidak bisa membayangkan malam yang lebih sempurna.
Dalam perjalanan pulang, mereka berdua tidak henti-hentinya tersenyum
dan tertawa dengan lelucon yang mereka buat. Mereka sangat merasa
bahagia, bukan karena makan malam di restoran mewah, bukan. Terlebih
karena keduanya menyadari betapa beruntungnya mereka untuk saling
memiliki satu sama lain.
Tiba-tiba, nama Olivia terucap dari bibir Ezra.
Saat itu juga, Ezra memegang erat tangan Olivia dan membisikkan tiga
kata yang tidak akan ia pernah lupa. Aku cinta kamu. “Aku mencintaimu.” ucap Ezra yang lalu mencium punggung tangan Olivia. Sebelum
Olivia bisa menjawab, ia melihat sepasang terang lampu mendekat ke sisi
Ezra. Dan kemudian, semuanya berubah menjadi gelap.
Olivia
terbaring diatas tempat tidur rumah sakit. Perlahan ia membuka matanya
dan mencoba beradaptasi dengan penglihatannya. Hanya cahaya lampu yang
terlihat samar-samar dan suara mesin medis yang terdengar berirama. Ia
sedang mencoba untuk bangkit dari posisinya saat seorang perawat bernama
Lisa di kartu tanda pengenalnya dengan sigap membantunya bersandar. Tak
lama, seorang dokter datang menghampirinya. Lelaki paruh baya itu
tersenyum kepadanya. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. Olivia
mengabaikan pertanyaan sang dokter. Ia tidak peduli bagaimana perasaan
maupun kondisinya.
Satu-satunya hal yang ia ingin tahu adalah dimana
Ezra dan apa yang terjadi. Sang dokter rupanya menangkap raut wajah
Olivia yang kebingungan. “Kau beruntung telah selamat dari
kecelakaan yang kau alami kemarin malam.” Dokter menjelaskan. “Dimana
Ezra?” Tanya Olivia gusar. “Dia jatuh koma.” sahut sang dokter.
“Dia jatuh koma.”
“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”
“Pendarahan yang terjadi terlalu hebat.”
“Dia kehilangan banyak darah.”
“Kami khawatir tidak bisa menolongnya.”
“Kami harus membiarkan dia pergi.”
Olivia
meletakkan kepalanya di bantal yang ada di belakangnya, menolak untuk
percaya apa yang dikatakan oleh dokter itu. Kata-kata dokter itu bergema
di kepalanya. Aku mencintaimu. Itu adalah kata-kata terakhir
yang keluar dari bibir Ezra. Tangisnya pecah. Olivia menutup matanya,
tidak pernah ingin melihat cahaya lagi.
“Halo?”
“Hei, sayang. Ini ayah.”
Ia jarang menelfon.
“Olivia,” ia memecah kesunyian, “biarkan ayah mengatakan sesuatu yang ayah simpan sendiri bertahun-tahun lamanya.” lanjutnya. “Sewaktu
kuliah dulu, ayah mengenal seorang gadis, Stella. Dia adalah gadis
impian ayah, gadis yang ayah tahu ayah ingin nikahi. Satu malam sebelum
wisuda, kami pergi ke sebuah pesta. Siapa sangka, pesta itu berubah
menjadi liar. Sangat tidak terkontrol. Orang-orang menggunakan
obat-obatan terlarang. Stella, dia overdosis. Dan dia tidak pernah
menerima diploma.” Olivia mendengar suara ayahnya retak.
“Hidup ayah
hancur setelah kematiannya. Ayah keluar dari perguruan tinggi yang
seharusnya ayah ikuti selama empat tahun. Ayah menghindari semua orang,
termasuk teman dan keluarga. Ayah merasa bersalah atas kematiannya.
Seharusnya ayah ada disana dan melarangnya saat ia melakukan hal itu.
Seharusnya ayah bisa menyelamatkan hidupnya.” Ia melanjutkan, “Olivia,
ayah melihat banyak kemiripan ayah di dirimu. Tapi ayah tidak ingin kau
juga jatuh ke dalam lubang yang sama dalam keputus asaan. Ayah tahu
bagaimana sakitnya perasaanmu, dan itu tidak masalah. Sangat wajar jika
kau berduka. Tapi, Olivia, jangan biarkan kematian Ezra mempengaruhi
sisa hidupmu.” Pada saat itu, air mata mengalir di wajah Olivia.
Meskipun ribuan mil terpisah Olivia dari ayahnya, ia tidak pernah merasa
sedekat ini dengan ayahnya. Sang Ayah benar-benar mengerti dirinya.
“Ingat, sayang, itu bukan salahmu. Dan ayah yakin, Ezra tidak akan
ingin melihatmu kacau seperti ini. Dia pasti ingin kau untuk melanjutkan
hidupmu.” Tak terasa, airmata sudah menghujani pipi Olivia. “Ayah tidak
tahu seberapa inginnya aku memelukmu saat ini.” kata Olivia
terbata-bata. “Ayah juga, sayang. Berjanjilah pada ayah kau akan
bangkit.”
Olivia menyeka airmatanya dan berkata, “Aku janji.”
Setelah itu, telfon terputus.
Olivia
memandang keluar jendela kamarnya. Hari ini tanggal satu Juni. Hari
ulangtahun Ezra. Satu Juni yang hangat, matahari hanya sekilas diatas
cakrawala, dengan sedikit angin yang berhembus menyentuh kulit putih
Olivia. Ia dapat merasakan rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap
mengalir dengan arah angin.
Ia memejamkan matanya dan mendengarkan
suara orang-orang berbicara dan tertawa di sepanjang jalan dengan
iringan musik klasik lembut yang dimainkan setiap pagi oleh Tuan Pablo−seorang seniman asal Perancis yang tinggal satu lantai dibawah
apartemennya. Bahkan dengan mata tertutup, Olivia masih ingat betul
garis-garis wajah Ezra, lekuk bibirnya saat membentuk senyuman, dan
pupil matanya yang membesar saat mereka bertukar pandangan. Olivia
membuka matanya lalu menghela nafas lega.
Jam di dinding menunjukkan pukul 07:50. Belum terlambat untuk masuk kelas pertama hari itu. Olivia mengenakan sweater merah kebesarannya dan melangkah keluar pintu
untuk pertama kalinya setelah kejadian yang merenggut nyawa sahabat
sekaligus yang seharusnya menjadi kekasihnya itu terjadi. Sambil
menghirup udara segar, Olivia membisikkan kata-kata yang ia ingin
katakan sejak terakhir kali ia mendengar kata-kata tersebut, “Aku
mencintaimu.”






0 comments