Powered by Blogger.
  • Poetry
  • Stories
  • Memories
email instagram twitter tumblr pinterest spotify soundcloud linkedin

unforesheen. | a blog by Shinta Utami


I am the sunset.

I am the sunset, 
who will always be there between the hesitation, between your night and noon.
I am the sunset, 
who you're always waiting for, but never you reach. You just simply admire without even saying 'Hello'.
I am the sunset, 
whose colors leave you breathless.
I am the sunset, 
who walk you home in fatigue, and congratulate you because you've been through the day well.
I am the sunset, 
who sometimes you forget about because of your goddamn business.
I am the sunset, 
who is willing to become an interlude when you need some time to take a breathe.
I am the sunset, 
who never wait for you to say 'Hello', because the evening rushes to appear, and you, you take too long to decide.
I am the sunset, 
who you would regret when I finally disappeared, 
because you missed me.

—s.d.u
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Olivia memandang keluar jendela kamarnya, menatap awan kelabu yang menyelimuti keindahan langit jingga senja ini. Dedaunan masih basah sehabis bermandikan air hujan. Sudah dua bulan lamanya sejak Olivia menginjakkan kaki keluar rumah. Ibunya sudah menyerah membujuk Olive­­­−begitu ia biasa disapa untuk pergi kuliah melaksanakan tugasnya sebagai seorang mahasiswi di salah satu universitas di kota London. Ayahnya, seorang sersan yang ditugaskan di Korea untuk militer, bahkan mungkin tidak mengetahui tentang masalah Olivia. Dia tidak punya satu hal pun untuk disalahkan− tidak orang tuanya, bukan teman-temannya, dan tentu saja tidak dengan Ezra−kecuali dirinya sendiri atas apa yang terjadi.

Olivia bertemu Ezra pada saat masa orientasi mahasiswa baru dua tahun silam. Saat pertama kali matanya bertemu dengan mata Ezra, ia tahu bahwa Ezra adalah laki-laki impiannya. Selama dua tahun ini, Olivia dan Ezra dikenal sebagai sepasang sahabat yang tak terpisahkan. Mereka melakukan segala sesuatu bersama-sama, dari menghangatkan badan sambil bermain monopoli di dekat perapian pada hari bersalju sampai menonton matahari terbenam di atap apartemen Olivia. Mereka selalu menikmati waktu-waktu yang mereka habiskan berdua.

Sebagai sepasang sahabat, tidak mungkin jika salah satu dari mereka tidak menyimpan perasaan lebih. Pada satu hari di bulan Maret−yang bertepatan dengan hari ulang tahun Olivia, Ezra mengajak Olivia pergi ke sebuah restoran mewah untuk makan malam. Olivia tidak bisa membayangkan malam yang lebih sempurna. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa dengan lelucon yang mereka buat. Mereka sangat merasa bahagia, bukan karena makan malam di restoran mewah, bukan. Terlebih karena keduanya menyadari betapa beruntungnya mereka untuk saling memiliki satu sama lain.

Tiba-tiba, nama Olivia terucap dari bibir Ezra. Saat itu juga, Ezra memegang erat tangan Olivia dan membisikkan tiga kata yang tidak akan ia pernah lupa. Aku cinta kamu. “Aku mencintaimu.” ucap Ezra yang lalu mencium punggung tangan Olivia. Sebelum Olivia bisa menjawab, ia melihat sepasang terang lampu mendekat ke sisi Ezra. Dan kemudian, semuanya berubah menjadi gelap.

Olivia terbaring diatas tempat tidur rumah sakit. Perlahan ia membuka matanya dan mencoba beradaptasi dengan penglihatannya. Hanya cahaya lampu yang terlihat samar-samar dan suara mesin medis yang terdengar berirama. Ia sedang mencoba untuk bangkit dari posisinya saat seorang perawat bernama Lisa di kartu tanda pengenalnya dengan sigap membantunya bersandar. Tak lama, seorang dokter datang menghampirinya. Lelaki paruh baya itu tersenyum kepadanya. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya. Olivia mengabaikan pertanyaan sang dokter. Ia tidak peduli bagaimana perasaan maupun kondisinya.

Satu-satunya hal yang ia ingin tahu adalah dimana Ezra dan apa yang terjadi. Sang dokter rupanya menangkap raut wajah Olivia yang kebingungan. “Kau beruntung telah selamat dari kecelakaan yang kau alami kemarin malam.” Dokter menjelaskan. “Dimana Ezra?” Tanya Olivia gusar. “Dia jatuh koma.” sahut sang dokter.

“Dia jatuh koma.”
“Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa.”
“Pendarahan yang terjadi terlalu hebat.”
“Dia kehilangan banyak darah.”
“Kami khawatir tidak bisa menolongnya.”
“Kami harus membiarkan dia pergi.”

Olivia meletakkan kepalanya di bantal yang ada di belakangnya, menolak untuk percaya apa yang dikatakan oleh dokter itu. Kata-kata dokter itu bergema di kepalanya. Aku mencintaimu. Itu adalah kata-kata terakhir yang keluar dari bibir Ezra. Tangisnya pecah. Olivia menutup matanya, tidak pernah ingin melihat cahaya lagi.

“Halo?”
“Hei, sayang. Ini ayah.”
Ia jarang menelfon.
“Olivia,” ia memecah kesunyian, “biarkan ayah mengatakan sesuatu yang ayah simpan sendiri bertahun-tahun lamanya.” lanjutnya. “Sewaktu kuliah dulu, ayah mengenal seorang gadis, Stella. Dia adalah gadis impian ayah, gadis yang ayah tahu ayah ingin nikahi. Satu malam sebelum wisuda, kami pergi ke sebuah pesta. Siapa sangka, pesta itu berubah menjadi liar. Sangat tidak terkontrol. Orang-orang menggunakan obat-obatan terlarang. Stella, dia overdosis. Dan dia tidak pernah menerima diploma.” Olivia mendengar suara ayahnya retak.

“Hidup ayah hancur setelah kematiannya. Ayah keluar dari perguruan tinggi yang seharusnya ayah ikuti selama empat tahun. Ayah menghindari semua orang, termasuk teman dan keluarga. Ayah merasa bersalah atas kematiannya. Seharusnya ayah ada disana dan melarangnya saat ia melakukan hal itu. Seharusnya ayah bisa menyelamatkan hidupnya.” Ia melanjutkan, “Olivia, ayah melihat banyak kemiripan ayah di dirimu. Tapi ayah tidak ingin kau juga jatuh ke dalam lubang yang sama dalam keputus asaan. Ayah tahu bagaimana sakitnya perasaanmu, dan itu tidak masalah. Sangat wajar jika kau berduka. Tapi, Olivia, jangan biarkan kematian Ezra mempengaruhi sisa hidupmu.” Pada saat itu, air mata mengalir di wajah Olivia.

Meskipun ribuan mil terpisah Olivia dari ayahnya, ia tidak pernah merasa sedekat ini dengan ayahnya. Sang Ayah benar-benar mengerti dirinya.  “Ingat, sayang, itu bukan salahmu. Dan ayah yakin, Ezra tidak akan ingin melihatmu kacau seperti ini. Dia pasti ingin kau untuk melanjutkan hidupmu.” Tak terasa, airmata sudah menghujani pipi Olivia. “Ayah tidak tahu seberapa inginnya aku memelukmu saat ini.” kata Olivia terbata-bata. “Ayah juga, sayang. Berjanjilah pada ayah kau akan bangkit.”
Olivia menyeka airmatanya dan berkata, “Aku janji.”
Setelah itu, telfon terputus.

Olivia memandang keluar jendela kamarnya. Hari ini tanggal satu Juni. Hari ulangtahun Ezra. Satu Juni yang hangat, matahari hanya sekilas diatas cakrawala, dengan sedikit angin yang berhembus menyentuh kulit putih Olivia. Ia dapat merasakan rambut panjangnya yang berwarna cokelat gelap mengalir dengan arah angin.

Ia memejamkan matanya dan mendengarkan suara orang-orang berbicara dan tertawa di sepanjang jalan dengan iringan musik klasik lembut yang dimainkan setiap pagi oleh Tuan Pablo−seorang seniman asal Perancis yang tinggal satu lantai dibawah apartemennya. Bahkan dengan mata tertutup, Olivia masih ingat betul garis-garis wajah Ezra, lekuk bibirnya saat membentuk senyuman, dan pupil matanya yang membesar saat mereka bertukar pandangan. Olivia membuka matanya lalu menghela nafas lega.

Jam di dinding menunjukkan pukul 07:50. Belum terlambat untuk masuk kelas pertama hari itu. Olivia mengenakan sweater merah kebesarannya dan melangkah keluar pintu untuk pertama kalinya setelah kejadian yang merenggut nyawa sahabat sekaligus yang seharusnya menjadi kekasihnya itu terjadi. Sambil menghirup udara segar, Olivia membisikkan kata-kata yang ia ingin katakan sejak terakhir kali ia mendengar kata-kata tersebut, “Aku mencintaimu.”
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
the skyline in her eyes, 
painting the silhouettes of the buildings she has always loved across the room,
giving her an unusual feeling, more like.. a memory
memories, that she almost forgot it hurts, but she enjoyed it anyway
until she looked down and could never look at the same street ever again
moments later, a whisper can be heard, from her, quoting her favorite poetry
she said, “i never paid much attention to abandoned buildings until i became one”

—s.d.u
3/28/2014 11:57pm


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

"He's gone."

"He's not gone. He's just never been there."

—s.d.u
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Hi! My name is Shinta. I like poetry, beauty, and hearing people's stories. Here you'll find bits and pieces of me. Xoxo.

recent posts

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  December (1)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  October (1)
    • ►  May (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2016 (6)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  April (2)
    • ►  January (1)
  • ►  2015 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (6)
    • ►  January (1)
  • ▼  2014 (4)
    • ▼  December (1)
      • I'll Be Your Sunset, If You'll Be My Silhoutte
    • ►  September (1)
      • Sepotong Cerita Tentang Kita
    • ►  August (1)
      • a fool
    • ►  January (1)
      • -
  • ►  2013 (3)
    • ►  September (2)
    • ►  January (1)

PLAYLIST OF THE DAY

LATEST WHINES

Tweets by shxntami

BOOKS I LOVE

It Ends with Us
No Matter the Wreckage
How to Be a Poet
Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe


Shinta Utami's favorite books »

Created with by ThemeXpose | © 2019 unforesheen.